Fatwa-Ulama[Syaikh Ibnu Jibrin ] – Hukum Cium Tangan

Hukum Cium Tangan
Syaikh Ibnu Jibrin
Pertanyaan:
Apa hukum cium tangan? Dan apa hukum mencium tangan seseorang yang memiliki keutamaan, misalnya guru, dan sebagainya? Apa pula hukum mencium tangan paman dan lainnya yang lebih tua? Apakah mencium tangan kedua orang tua ada tuntunannya dalam syari’at? Ada orang yang mengatakan bahwa cium tangan mengandung kehinaan (menghinakan diri sendiri).




Jawaban:

Menurut kami, itu boleh, dalam rangka menghormati dan bersikap sopan terhadap kedua orang tua, ulama, orang-orang yang memiliki keutamaan, kerabat yang lebih tua dan sebagainya. Ibnul Arabi telah menulis risalah tentang hukum cium tangan dan sejenisnya, sebaiknya merujuknya. Bila cium tangan itu dilakukan terhadap kerabat-kerabat yang lebih tua atau orang-orang yang memiliki keutamaan, ini berarti sebagai penghormatan, bukan menghinakan diri dan bukan pula pengagungan. Kami dapati sebagian Syaikh kami mengingkarinya dan melarangnya, hal itu karena sikap rendah hati mereka, bukan berarti mereka mengharamkannya. Wallahu a’lam.


Rujukan:
Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin (1852), tanggal 20/11/1421 H.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.
  • isnambur

    Imam Tawus ra pernah berkata; Imam Amirul Mukminin Ali Abi Thalib k.w.h… ''la yahilu lirajulin ayyuqobbala yada ahadin ilamroatuhu min syawatin aw waladahu min rahmatin…
    maksud: x halal bagi seorang lelaki itu mencium tangan seseorang kecuali pada isterinya lantaran syahwat @ kepada anknya kerana rahmat.

    rumusnya-saidina Ali menyatakannya KALAU kerana mengagungkan manusia..